Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Beberapa hari ini penulis sedang berusaha keras menyempurnakan RAPTOR, sebuah Perangkat Pustaka Digital dan Otomasi Perpustakaan buatan Rumah Ilmu Indonesia. Alhamdulillah, tulang punggung program sebagian besar sudah rampung, hanya tentu saja, sebagaimana layaknya perangkat lunak komputer awal, ia harus terus dievaluasi dan diperbaiki.

Keep reading…


Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Adalah sebuah kebahagiaan, jika apa yang buat mendapatkan perhatian dari sahabat-sahabat kita. Walaupun bukan itu esensi dari perbuatan itu sendiri.

Sepulang dari Rembang, Jawa Tengah, Senin 8 Juni 2008, penulis langsung mengecek benarkah profil penulis dan Rumah Ilmu Indonesia dimuat di salah satu Surat Kabar Nasional, REPUBLIKA, seperti yang disampaikan sahabat-sahabat lewat kolom komentar di facebook penulis.

Subhanallah, ternyata memang benar.

Membaca tulisan itu, campur aduk rasa di hati. Amanah besar itu bukan lagi disaksikan satu dua orang, tapi oleh banyak orang. Mereka akan memberi penilaian subjektifnya masing-masing, yang akan membantu mengontrol gerak dan jalannya cita-cita yang telah dibuat dan terikrarkan. Mudah-mudahan penulis bisa tercukupkan dengan penilaian dari Allah semata.

Berikut kami salinkan rubrik itu disini, semoga memberi nilai inspirasi positif - terutama bagi para guru - dan jalan kebaikan, terutama bagi sosok yang dirinya dimuat dalam tulisan itu.

Fa idza azzamta fa tawakal ‘alallah

Salam,
Yayasan Rumah Ilmu Indonesia
http://www.rumahilmuindonesia.or.id

Keep reading…


Oleh : Reza Ervani

“Bagaimana Dikti, Dikmenjur, Dikmenum, dan Menegkominfo? Mau mengebut di bidang TI, tapi melupakan perpustakaan

Demikian yang ditulis oleh salah seorang maestro IT Indonesia, I Made Wiryana.

Dulu sekali, Desember 2007, seminar pertama yang penulis adakan bersama rekan-rekan di Rumah Ilmu Indonesia adalah tentang Perpustakaan Digital. Tidak lain dan tidak bukan, latar belakangnya adalah betapa perpustakaan di negeri kita ini bukanlah tempat yang menjadi idola keluarga.

Di sekolah pun, sudut sunyi keilmuan itu seringkali terlupakan.  Tidak hanya terlupa secara manajerial, tapi terlupakan pula dalam inovasi, hobi dan kecintaan.

Keep reading…


Oleh : Reza Ervani

Ketika Tabloid Klub Guru Indonesia mengangkat sebuah tema dengan menuliskannya besar-besar : “Transformasi Pendidikan Melalui ICT”, penulis teringat pernah membaca sebuah tulisan dari Prof. Dr. Yusufhadi Miarso.

Tulisan itu runut sekali. Disampaikan pada pidato pengukuhan penerimaan jabatan Guru Besar Tetap, Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, 18 Oktober 1988. Lebih dari 20 tahun yang lalu.

Penulis ringkas sebagai berikut :

Keep reading…


Oleh : Reza Ervani

Jangan sangka ini black campaign atau semacamnya …
Tapi sekedar catatan harian saja …
Bahasa kerennya mungkin … Catatan harian seorang rakyat …

Karena istri masih belum terlalu pulih setelah melahirkan, beberapa hari terakhir, makanan dari tukang jualan di pinggir jalan menjadi menu sementara. Tapi semalam, penulis merasakan kejanggalan … semua pedagang pecel lele di sepanjang jalan dago “menghilang”. Ada sesuatu yang tidak biasa, itulah yang ada di benak penulis malam tadi, tapi tidak terlalu dalam, karena perut sudah berbunyi minta dipenuhi haknya sedari siang tadi.

Keep reading…


Oleh : Reza Ervani

Luar biasa antusiasme para guru terhadap SUPERPEDIA di Sagusala Fair Surabaya. Donasi yang terkumpul hampir menyentuh angka 700 ribu rupiah, sebuah angka yang cukup besar. (Tentu bukan jika dibandingkan dengan penjualan sebuah copyright proprietary software). Bahkan donasi personal yang tertinggi adalah 400 ribu rupiah, yang didonasikan seorang guru SMPN 41 Surabaya.

Bukan SUPERPEDIA-nya saja yang ingin penulis soroti dalam tulisan ini. Tapi semangat Open Source, semangat berbagi, semangat berkembang dan bertumbuh bersama.

Keep reading…


Oleh : Reza Ervani

Catatan kecil saja sebenarnya, tapi menjadi penting bagi pengguna SUPERPEDIA Offline, karena saat ini ukuran database MySQL SUPERPEDIA - http://superpedia.rumahilmuindonesia.net - sudah melewati angka 50 MB. Berikut adalah tips agar import database anda berhasil dengan baik.

Keep reading…


Oleh : Reza Ervani

Setelah puas bermain-main dengan kemudahan yang ditawarkan oleh WordPress, tahap pembelajaran selanjutnya adalah membedah Codex, sebagai bagian dari upaya membangun plugin mandiri.

Plugin yang sangat ingin dilahirkan dari Rumah Ilmu Indonesia adalah plugin hyperlink SUPERPEDIA (http://superpedia.rumahilmuindonesia.net), dimana nanti plugin ini akan mempermudah siswa dalam memahami sebuah wacana - Dalam Bahasa Inggris, Sunda, Indonesia maupun Jawa - karena terhubung langsung dengan database Kamus Lengkap di SUPERPEDIA, yang sekarang terus dibangun dan diperkaya entrynya.

Mudah-mudahan bisa kita lihat progress-nya melalui tulisan-tulisan berikutnya di blog ini.

Amin


Oleh : Reza Ervani (Power Point Slide Show)

Dibuat untuk persiapan audiensi dengan Intel Indonesia dalam rangka program “1000 Laptop buat Guru”.

Dapat diunduh di http://www.rumahilmuindonesia.net/perpustakaan/teknologi_pendidikan/konten_edukasi.rar

Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang menggeluti dunia teknologi Pendidikan.

Salam,


Ini oleh-oleh setelah menginstall Ubuntuk di Acer Aspire 5315. Setelah bener-bener sucks dengan Windows XP yang tampaknya kurang disupport oleh Hardware Acer, pilihan terbaik adalah pindah ke LINUX.

Masalah muncul karena didalam laptop tersebut sudah ada drive mantan Windows XP yang penuh dengan data-data penting, sehingga tetap harus bisa diakses dari LINUX. Dan itu bisa dilakukan dengan mudah di Ubuntu.

Cara memount partisi ntfs di ubuntu linux adalah:

  1. masuklah sebagai super user. ketik “sudo bash” , enter
  2. pastikan ntfs-3g sudah terinstall, jika belum gunakan “aptitude install ntfs-3g” untuk menginstallnya. [membutuhkan repo]
  3. buat directory baru di /media/ dengan nama sesuai nama partisi, caranya “mkdir /media/data”
  4. saatnya memaksa si Ubuntu linux memount partisi kita, gunakan perintah “mount -t ntfs-3g /dev/sdb2 /media/unyil -o force”

Semua perintah diatas diketik di terminal pada mode root, dan diketik tanpa tanda petik.

Yeah, Ubuntu memang ciamik