Surabaya, 24 Juni 2010
Alhamdulillah, malam ini penulis kembali merasakan nikmat dan bersihnya Bandara Juanda Surabaya. Sambil menunggu keberangkatan pesawat terakhir ke Jakarta, rasa-rasanya tidak salah untuk membuat sedikit catatan tentang pengalaman luar biasa yang diperoleh hari ini.
Sore ini penulis diminta untuk berbagi dengan para pengelola TKBM (Tempat Kegiatan Belajar Mandiri) se-Indonesia dalam acara Workshop yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Nasional RI. Peserta datang dari berbagai wilayah Indonesia, sebut saja beberapa yang sempat berinteraksi langsung dengan penulis adalah dari Bandar Lampung, Lombok dan Sulawesi Tengah.
Sesuai dengan undangan, penulis diminta berbagi konsep solusi pembelajaran berbasis TIK diantara keterbatasan yang dihadapi oleh para pengelola TKBM.
Sebagai catatan, TKBM juga dikenal dengan nama Sekolah Terbuka. Tidak seperti sekolah pada umumnya, TKBM memfasilitasi anak-anak yang memiliki keterbatasan, baik keterbatasan sosial ekonomi maupun keterbatasan sosial lainnya, untuk bisa tetap belajar dan memperoleh ijazah formal.
Bagi kebanyakan sekolah terbuka, komputer apalagi laptop masihlah barang mewah yang masih ada di tataran mimpi, karena kegiatan belajar mengajar di TKBM sebagian besar didorong dari swadaya masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi pada edukasi generasi masa depan.
Materi penulis mulai dengan mengajak para peserta menempatkan konsep TIK untuk Pembelajaran dengan tepat, termasuk dalam hal ini masalah daya dukung kompetensi guru dan penguasaan guru pada mata pelajaran yang diampunya. Tanpa daya dukung ini, memaksakan fasilitas TIK di sekolah hanya akan menjadi sesuatu yang mubazir belaka.
Beberapa konsep yang mendulang antusiasme peserta diantaranya adalah Laboratorium Komputer Murah berbasis Open Source Software dan Konsep Pembelajaran Internet tanpa Internet. Pertanyaan mengalir seusai sesi, sehingga beberapa peserta rela mengorbankan jatah makan malamnya untuk sekedar memenuhi rasa penasaran. Seorang peserta yang membawa laptop bahkan langsung mengajukan diri untuk menggunakan Ubuntu di laptopnya, setelah penulis melakukan demo singkat seputar konsep pembelajaran Internet tanpa Internet.
Betapa tidak, alternatif pengembangan infrastruktur pembelajaran yang murah tentu saja menjadi peluang bagi mereka untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar di TKBM masing-masing. Untuk itu, Rumah Ilmu Indonesia kemudian mencoba memposisikan diri sebagai konsultan dan pendamping bagi para pengelola TKBM ini untuk bisa mewujudkan hal itu menjadi nyata di lapangan. Untuk itu kerjasama erat dengan berbagai pihak akan coba mulai dirintis. Salah satunya adalah dengan Yayasan Sekolah Rakyat Indonesia (YSRI)
Betapa bahagianya penulis menyaksikan antusiasme mereka ini. Benar ternyata, bahwa kondisi pendidikan di negeri ini masih membutuhkan banyak sentuhan inovasi dari tiap anak bangsa yang peduli. Kondisi ideal memang masih jauh, tapi setiap daya dan upaya yang kita lakukan, mudah-mudahan semakin mendekatkan kita pada cita-cita ideal yang kita damba-dambakan.
Malam ini penulis belajar, bahwa kerja panjang baru saja dimulai. Sudah terlalu jauh kaki melangkah untuk mundur kembali. Tidak lain harapan kini, semoga Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqomah menapaki jalan yang dipilih ini. Amin
Laa Haula wa Laa Quwwata ila billah.
*) Penulis adalah Pembina Yayasan Rumah Ilmu Indonesia

Nur eine gewöhnliche, Wer denkt über die vielen Dinge. Nach wachsenden physisch, er versucht zu denken, zu bestimmten Fragen nur, insbesondere zum Thema Bildung und die menschliche Entwicklung, und dabei zu lernen, zu tun, die er am besten kann.




Assalamu’alaikum mas reza,
tolong dong saya dikirimi no.hpnya mas reza ke hp saya di 081313150993 penting banget nih…terkait masalah website sekolah saya di aceh utara…
trims sebelumnya
Wassalamu’alaikum Wr Wb
eko suprihantomo
sdn 8 langkahan
aceh utara
Juli 26th, 2010 at 2:42 pm